Among-Among, Kearifan Lokal Yang Mulai Tergeser Budaya Ulang Tahun

KEBERSAMAAN - Anak anak terlihat lahap menyantap makanan yang disajikan dalam among among (foto ist)

TAMBAKPROGATEN – Era modern membawa dampak besar terhadap kehidupan kita. Keterbukaan informasi yang berimbas adanya serbuan beragam budaya luar masuk dan secara tidak sadar mempengaruhi kehidupan kita. Dengan alasan kuno dan tidak kekinian, banyak kebiasaan warisan yang telah dilakukan turun temurun, mulai bergeser dan diganti kegiatan lain yang banyak digaungkan sebagai perwujudan modernisasi.

Saat ini, kalimat agar bisa dikatakan modern dan kekinian menjadi dasar dalam melakukan sesuatu, nilai seolah menjadi tidak penting, dalih mengikuti jaman seolah menjadi faktor pembenar, hanya karena biar tidak dikatakan kuno dan tidak ketinggalan jaman mereka rela melakukan sesuatu tanpa harus tahu maksud dan tujuan dari apa yang mereka lakukan tersebut.

Bandingkan dengan apa yang dilakukan pendahulu kita, apa yang mereka lakukan sejak dulu dan berharap dijaga oleh generasi penerusnya secara nilai pasti mengandung arti yang luas dan dalam, bagaimana mereka selalu mengajarkan syukur kepada pencipta, kesederhanaan, kebersamaan, gotong royong dan rasa saling menghargai satu sama lain. Salah satunya adalah among-among, ini adalah sebuah kegiatan yang pelakunya didominasi anak kecil, mereka duduk mengelilingi paruk (seperti baskom tapi dari tanah liat) yang diatasnya diberi dasar untuk tempat makanan. Kebersamaan yang ditunjukan dengan makan bersama ini dilakukan sebagai perwujudan rasa syukur orang tua telah dikaruniai seorang anak.

Among-among dilakukan setiap selapan hari (dalam bahasa jawa-red sama dengan 36 hari kalender), biasanya dilakukan pas hari lahirnya si anak, misalkan anak lahir Senin Wage, among-among akan dilakukan Setiap Senin Wage,” kata Partiwi, 73 salah seorang warga Tambakprogaten.

MELIHAT NILAI AMONG AMONG
Ungkapan rasa syukur kepada pencipta ini dilakukan dengan cara berbagi dan silaturahmi, selain berbagi dengan makan bersama, kegiatan ini juga untuk lebih mengakrabkan antara si anak yang diundang dengan anak yang mengundang. Cara yang dilakukannya pun sederhana, dengan getok tular, anak-anak yang ada disekitarnya saling mengajak temannya untuk datang ketempat si anak yang mengundang.

Kesederhanaan dan kebersamaan sangat kentara dalam kegiatan ini, duduk bersama, makan dengan menu yang sama, tempat yang sama tanpa memandang strata sosial si anak, semua berbaur tanpa batasan lahap menikmati hidangan sederhana yang didahului dengan membawa doa sebelumnya.

Menu yang disajikan pun sederhana, nasi dilengkapi Kluban (sayur dicampur sambal dari parutan kelapa), yang dicampur ikan teri dan diberi lauk telur yang dibelah, tempe dan peyek (kacang/kedelai yang digoreng bersama tepung terigu). Siapapun yang menyelenggarakan, menu yang disajikan sama, walaupun secara strata sosial berbeda.

“Bahannya memanfaatkan dari apa yang ada disekitar, bayam, kelapa, ada yang beli tapi tidak banyak, jadi kita tidak berat dan terbebani,” sambung Siti, 40 salah seorang ibu yang ditemui saat ikut bersama anaknya among-among dirumah tetangganya.

Kesederhanaan dan kebersamaan ini menjadikan tidak ada yang terbebani dalam kegiatan ini, semua dilakukan atas kesadaran dan keikhlasan. Si pengundang yang menyediakan makananpun dengan senang hati karena tidak menguras biaya, yang diundang pun tidak perlu repot repot membawa kado hadiah.

“Intinya kita duduk bersama, dengan kesederhanaan, kebersamaan, bersama sama berdoa memanjatkan syukur atas karunia yang diberikan sang pencipta,” Pungkas Siti.(adm/TON)

Facebook Comments

Kegiatan Mendatang

Tidak ada kegiatan mendatang.

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan