Orang Tua Harus Mengawasi, Penggunaan Internet Gratis di Balaidesa

VIDEO KOREA - Akses internet dimanfaatkan untuk mengakses video band korea di You Tube oleh anak-anak yang mengakses internet di balidesa kemarin (foto : Agus Rohman)
BERGEROMBOL – Anak-anak usia belasan sedang memanfaatkan internet gratis dibalai desa kemarin (foto : Agus Rohman)

TAMBAKPROGATEN – Menjauhkan yang dekat dan mendekatkan yang jauh, istilah itu mungkin sekarang lebih tepat saat sekumpulan anak muda berkumpul. Walaupun nampak berjejer beberapa orang, tak ada obrolan dan diskusi mereka bermain bukan dengan teman di sekitarnya, melainkan dengan handphone masing-masing. Mereka terlalu asyik terbuai dengan tontonan baik itu melihat medsos dan apapun yang tersaji di dunia maya yang berasal telepone pintar mereka yang disambungkan dengan fasilitas internet gratis di Balaidesa Tambakprogaten, kemarin.

Salah satu anggota Kader Pemberdayaan Masyarakat Desa (KPMD), Eko Saputra mengatakan, selain membawa dampat positif, pastinya ada juga dampak negatifnya dari akses internet. Untuk itu pihaknya berharap kepada orang tua untuk lebih bijaksana dengan melakukan pengawasan terhadap anak mereka. Berdasarkan pengamatannya, saat ini, para pengguna wifi gratis di balaidesa rata-rata pengguna adalah anak-anak.

“Ironisnya sebagian besar hanya mengakses media sosial, buka facebook, game online, jarang banget yang menggunakan untuk kepentingan kegiatan belajar mengajar mereka,” ujarnya.

Pihaknya juga menyayangkan para orang tua yang memberi kebebasan anaknya, berdasarkan hasil pengamatannya. Anak-anak yang masih diusia belasan mengaku handphone yang mereka gunakan berselancar di dunia maya untuk menikmati fasilitas akses internet gratis dibalaidesa dibelikan orang tua mereka.

“Usia mereka masih belasan, rata rata usia SMP, banyak juga yang masih usia SD, para orangtua seharusnya tidak memberikan handphone secara bebas, melainkan harus dengan pengawasan,” terangnya.

Dirinya mencontohkan Bill Gates, orang terkaya dunia ini memberikan batasan penggunaan telepone pintar kepada anaknya. Pendiri misrosoft ini belum memberikan gadget kepada anaknya sebelum mereka berusia 14 tahun. Dengan kekayaan 1.000 trilliun, handpone bukan barang yang berharga tentunya. Kesadaran bahaya dibebaskannya si anak dalam penggunaan tehnologi tanpa ada pengawasan menjadi salah satu alasan.

“Rasa sayang kepada anak bukan dengan memberikan apa saja yang diminta si anak, namun lebih memberikan penyadaran dan pendidikan, untuk mengawasi tumbuh kembang anak. Jangankan handphone, Bill Gates bisa membelikan pesawat pribadi untuk anak-anaknya, tapi itu tidak dilakukannya,” lanjut pria berbadan tambun ini.

Ditambahkan anggota Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa (LKMD) Samsul Huda, keberadaan era digital ini tidak bisa dipungkiri. Namun perlu penyikapan secara arif dan bijaksana agar tehnologi tersebut bisa dimanfaatkan secara positif bukan sebaliknya. Era digital, menurutnya banyak memberi kemudahan, salah satunya dengan kemudahan akses informasi, baik itu terkait sesuatu yang mendukung kegiatan belajar mengajar dan pengetahuan tentang ketrampilan.

“Disinilah peran orang tua, orang tua harus lebih cerdas membaca perkembangan jaman, tidak terbawa arus dan tehnologi hanya membawa dampak negatif saja. Internet dan tehnologi juga memudahkan kita dan anak-anak kita, dengan pengawasan tentunya,” ujarnya.(Gusro/adm)

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan