Peringatan Maulid Nabi, Perwujudan Rasa Kebersamaan dan Rasa Saling Memiliki

MAULUD NABI - Warga sedang mendengarkan siraman rohani dalam maulud nabi di Desa Tambakprogaten, kemarin.

TAMBAKPROGATEN – Kebersamaan, semangat gotong royong dan rasa saling memiliki tidak pernah lepas dari kehidupan manusia. Jiwa sosial, semangat bersama untuk mencapai suatu tujuan menjadi perwujudannya. Di desa, jiwa tersebut semakin kentara, selain didorong faktor kedekatan geografis, kedekatan karena ikatan persaudaraan dan saling mengenal sejak nenek moyang mereka menjadi rasa persaudaraan semakin menguat.

Rasa kebersamaan tersebut diwujudkan dengan kegiatan yang dilaksanakan bersama, swadaya, gotong royong akrab dengan kehidupan sehari-hari. Salah satu perwujudnya adalah kegiatan keagamaan, Peringatan Maulud Nabi Besar Muhammad SAW. Dengan 100 persen penduduk muslim, kegiatan ini telah membudaya dan menjadi kegiatan rutin yang dilaksanakan turun menurun di bulan maulud dalam kalender islam.

Seperti kegiatan kemarin, kegiatan yang dipusatkan di masjid desa, merupakan perwujudan semangat itu. Ada dua masjid di Desa Tambakprogaten, di Dukuh Progaten dan Dukuh Tambak. Bentuk kegiatan dan cara pelaksanaanya pun tak jauh berbeda. Dalam pelaksanaannya, anggaran yang dibutuhkan tidak sedikit, semangat rasa saling memiliki kegiatan tersebut menjadi hal yang meringankan dalam pelaksanaannya dan tidak membebani anggaran desa.

“Kegiatan ini merupakan swadaya, semua lapisan masyarakat ikut membantu dan perpartisipasi dengan cara mereka masing-masing,”ujar Kepala Desa Tambakprogaten, Muslikhudin

Swadaya itulah yang membuat kegiatan ini berjalan lancar, semua lapisan masyarakat perpartisipasi, mulai dari anggaran untuk membayar keperluan seperti sewa tenda, kursi, sound system dan segala kebutuhan yang diperlukan selama kegiatan tersebut. Sudah menjadi tradisi, selain mendengarkan ceramah ulama yang sengaja diundang untuk mengisi siraman rohani, sebagai penghormatan panitia juga memberikan snak dan makan dalam bentuk nasi kardus.

“Selain iuran, masyarakat juga membawa makanan dan snak, untuk pembicaranya kita biasanya mengundang dari luar daerah,” kata salah satu panitia kegiatan, Muhammad Badrussalam, kemarin.

Tidak hanya itu, selain mengeluarkan sumber daya untuk mendukung lancarnya kegiatan tersebut, semua lapisan masyarakat, mulai dari sesepuh, orang tua, remaja bahkan anak-anak berbaur dan sukarela untuk tidak melakukan aktivitas dan menyempatkan datang ke masjid, tempat berlangsungnya acara. Penduduk yang mayoritas petani ini rela tidak pergi ke sawah selama kegiatan yang biasanya berlangsung dari pagi hingga siang hari.

“Tanpa gotong-royong, rasa saling memiliki, dan kebersamaan dimiliki masyarakat, kegiatan tersebut tidak mungkin akan terlaksana,” tambah ketua Badan Permusyawarakatan Desa (BPD), Masrukhan.(adm)

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan