Merajut Ide di Poskamling

BERMAIN-Warga sedang bermain dan bersantai di poskamling, kemarin.

TAMBAKPROGATEN – Matahari mulai bersembunyi, bersamaan dengan meredupnya sinar pancarannya, beriringan dengan itu, bulan terlihat sedikit malu-malu mulai memancarkan sinar temaramnya. Tanda alam yang lazim disebut dengan pergantian waktu, siang telah beranjak dan malampun datang.

Bulan tidak seterang matahari, walaupun memancarkan sinar, gelap masih menyelimuti, terutama bagi masyarakat pedesaan. Lampu penerangan jalan tidak tersebar seperti banyak kita lihat di daerah perkotaan, maupun daerah pinggiran perkotaan. Meski disinari lampu PLN yang dipasang warga di rumah mereka, suasana temaram tetap terlihat. Desa Tambakprogaten merupakan kawasan pesisir laut selatan, kondisi temaram khas pedesaan seolah semakin ditegaskan dengan bunyi katak saling bersahutan, seolah sedang merayakan datangnya musim hujan.

Ditengah suasana syahdu pedesaan, hujan sedikit malu menampakan diri, hanya gerimis, namun cukup menambah hawa dingin malam itu. Bagi sebagian orang, suasana itu mungkin sangat mendukung mereka untuk bersantai dirumah, melepas lelah setelah seharian beraktifitas. Namun tidak dengan sebagian warga, disebuah pos keamanan lingkungan (poskamling) yang dibangun di utara balai desa Tambakprogaten, nampak beberapa warga berkerumun disana, sembari bermain karambol, canda tawa terdengar dari gelak tawa dari sebagian warga yang didominasi anak muda.

Agus Rohman, 21 salah satu warga mengatakan, poskamling ini merupakan tempat serbaguna, selain digunakan untuk berkumpulnya warga yang nantinya akan bergantian menjaga keamanan lingkungan, tempat ini juga digunakan sebagai tempat diskusi.

“Banyak ide maupun kegiatan yang berawal dari poskamling ini,” kata warga yang masih duduk di bangku salah satu perguruan tinggi negeri di Jogjakarta ini.

Dirinya menyebutkan, bermacam kegiatan seperti festival layang-layang, turnamen sepakbola, pelatihan internet marketing berawal dari obrolan poskamling yang didirikan secara swadaya dan satu-satunya di desa tersebut. Walaupun ditengah keterbatasan, lanjutnya, tidak menjadi alasan untuk berhenti berkreatifitas.

“Walaupun tidak tongkrong di cafe, rumah makan atau akringan, tidak menjadi alasan untuk tidak berkreatifitas,” lanjutnya yang ditimpali beberapa temannya yang berada disana.

Ditambahkan Sumedi, 45, warga yang halaman rumahnya dibangun poskamling tersebut, pihaknya dengan bergotong royong dengan warga di tempatnya sengaja membangun pos yang berbahan bambu dan pohon kelapa untuk menghilangkan stigma negatif tentang keberadaan poskamling. Selama ini, lanjutnya ada anggapan bahwa pos yang sebagian orang menyebut dengan gardu tersebut hanya untuk tempat tongkrong dan cenderung mengarah ke kegiatan negatif.

“Dulu, banyak warga beranggapan poskamling malah dijadikan tempat anak-anak tongkrong, sambil minum minuman keras, kekhawatiran itu mungkin yang menyebabkan tidak ada pos kampling di desa ini,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, lanjut pria yang pernah menjabat ketua RT, pihaknya dan warga lainnya berkomitmen untuk bersama-sama menjaga agar hal yang seperti dikhawatirkan banyak orang tidak terjadi.

“Kami berkomitmen bersama-sama untuk menjaga hal tersebut tidak terjadi, selain itu dengan adanya hal yang positif seperti diskusi dan merencanakan banyak kegiatan, insya alloh bisa dijadikan salah satu cara untuk mengantisipasi hal itu (negatif-red),” pungkasnya (adm)

Facebook Comments

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan